Wednesday, March 18, 2009

Kakak Pun Hadir di Dunia

Entah, saya tidak bisa berkata-kata ketika mendengar tangisan Kakak di ruang operasi. Ya, Bundanya harus menjalani operasi cesar karena plasenta Kakak masih di bawah. Meskipun tidak menghalangi jalan lahir, tapi Kakak sudah terlalu lama. Sejak ketuban Bunda pecah pukul 20.30 di rumah, dan sempat dibawa ke bidan, lalu pulang lagi dan kembali bidan jam 4 pagi, bukaan Bunda tidak bertambah dari bukaan satu. Akhirnya Bunda dibawa ke RSB Annisa dibantu mobil dari Bidan. Di rumah sakit pun bukaan Bunda tidak bertambah. Perawatan memberikan opsi induksi ato langsung cesar. Meskipun ada opsi induksi, namun keberadaan plasenta itu beresiko menimbulkan pendarahan. Keselamatan Kakak dan Bunda harus diutamakan. Opsi cesar pun diambil.

Bunda masuk ruang operasi sekitar pukul 06.15. Saya tidak boleh masuk. Gelisah saya menunggu di ruang tunggu bersama Ayah Mertua. Saya mencoba untuk berdzikir dan tilawah dengan fasilitas Al Quran yang ada di HP, meskipun tidak bisa konsentrasi namun bisa memberikan ketenangan.

Sekitar pukul 07.45, terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras dari ruang operasi. Seorang OB yang sedang menyapu ruang tunggu berkata,"Itu mungkin anak Bapak sudah lahir." Oh keras sekali tangismu Nak.

Ah, rasa gelisah itu berubah menjadi rasa terharu. Sekitar pukul 07.55 seorang perawat ke luar dari ruang operasi menggendong Kakak. Beliau memperlihatkan Kakak kepada saya. Saya pun tidak bisa menahan air mata haru. Pertanyaan Ayah Mertua tentang jenis kelaminnya tidak bisa saya jawab hingga saya sampai di tikungan jalur menuju lantai atas, lalu saya jawab dengan suara serak karena saya masih sangat emosional.

"Bapak kalo mau wudhu sebelum mengazankan anak Bapak, silahkan wudhu di Mushola di sana," kata seorang perawat menunjukkan arah mushola di lantai dua. "Nanti Bapak masuk sana saja," lanjutnya sambil menunjukkan ruang perawatan.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya menuju mushola dan berwudhu. Saya menghampiri tempat inkubator yang ditunjuk perawat. Rasa emosional itu muncul kembali sehingga saya mengazankan Kakak di telinga kiri dan tidak dapat berkonsentrasi urutan azan. Setelah mengambil nafas dan menguasai emosi, saya kembali mengazankan dan meng-iqamatkan Kakak. Setelah itu, karena nggak tahan, saya mencium kepala Kakak. Akhirnya saya diberitahu perawat bahwa saya dilarang menciumnya.

Setelah mengazankan dan meng-iqamatkan Kakak, say turun menuju ruang operasi. Kata perawat, Bunda lagi dijahit dulu. Setelah menunggu beberapa menit, saya diperbolehkan masuk ke ruang operasi dan mendengarkan penjelasan dari asisten dokter. Lalu, bantu OB tadi dan seorang satpam, Bunda dibawa ke lantai 3 menuju kamar inap.

Sore harinya, Bunda melihat Kakak. Namun sayangnya nggak boleh menyusui dahulu karena keadaan Bunda yang tidak boleh duduk. Bunda hanya mengelus pipi Kakak ketika Bunda latihan miring. Bunda merasa kesakitan akibat operasi cesar itu. "Tabah ya Bunda," kata saya sambil menyemangatinya.

Ah, selamat datang Kakak. Kau akan menghiasi hari-hari kami selanjutnya. Semoga Allah Mengabulkan doa2 Ayah, Bunda, Gaek (Kakek dari pihak Bunda), Nenek, Mbah di Jakarta, para saudara di Jambi dan Jakarta, dan seluruh kawan-kawan Ayah dan Bunda di Jambi dan Jakarta. Amin.

No comments: