Tuesday, December 14, 2010

Penamu Harimaumu!

Kita pernah mendengar pameo Mulutmu Harimaumu, yang menandakan kita harus berhati-hati dalam berbicara. Karena mulut/lisan yang tidak terjaga, akan dapat menerkam diri kita bahkan dapat membunuh kita.

Begitu juga tulisan kita. Bahkan ada pendapat "Pena lebih tajam daripada pedang." Kita juga harus berhati-hati dalam menulis dan tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat.

Hal ini terjadi pada sebuah media online yang berjuluk "Media Islam Rujukan." Sebenarnya media ini sangat bagus untuk menambah wawasan keislaman di dunia. Namun belakangan ini, ada oknum yang senangnya menulis yang aneh-aneh dan malah kontraproduktif.

Kasus terakhir adalah tulisan media online tersebut yang menyebut seorang ulama besar kurang kerjaan karena mengomentari keberhasilan Qatar mengalahkan AS dalam voting tuan rumah Piala Dunia 2022. Bahkan media tersebut menyarankan sang ulama lebih perhatian dengan sesuatu yang bermanfaat.

Kenyataannya Ulama itu sendiri tidak peduli dengan sepakbola. Namun media online itu salah mengutip beritanya di media mancanegara. Di media lokal Qatar, pernyataan Ulama tersebut adalah reaksi dari ucapan Obama (presiden AS itu lhoo), yang bilang bahwa keputusan FIFA memilih Qatar adalah keputusan yang salah. Pernyataan itu dianggap oleh Ulama, AS terlalu arogan ingin menguasai segala sesuatu di bumi, termasuk ekonomi dan olahraga. AS memang bersaing dengan beberapa negara untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Dari tulisan itu saya belajar untuk mencari rujukan lain dalam menulis. Juga tata cara menulis, lebih mengedepankan aura positif dan menghindari bahasa yang keras. Mengkritik menurut saya baik, tapi harus konstruktif.

Demikian pelajaran yang saya ambil dari peristiwa tersebut di atas.